Kamis, 29 Januari 2015

Travel Journal to Belgium: Leuven, The City of Students




Visiting the capital city of Belgium, is too mainstream, so when we traveled to Belgium, we went to Leuven. Hah? Leuven? Sebelah mananya Belgia tuh? 

Belgia menjadi negara pertama yang saya explore, saat saya pergi ke Eropa setahun yang lalu. Leuven can be reached by train from Amsterdam with length of journey is 2,5 hours. Rigth after we landed at Amsterdam Schipol, we took the train to Rotterdam central, and had to changed the train to Leuven.
Di Stasiun Leuven

Leuven (pronounce: Loven), atau Louvain (pronounce: luve) sebuah kota kecil, sekitar 25 kilometer dari Brusel. Leuven itu bagaikan Oxford-nya Inggris. Yes. Leuven is a “student city”, dimana hampir seluruh gedung di kota ini itu kampus. Katholieke Universiteit Leuven atau yang sama students disana disebut KU Leuven, is the oldest university that still exist and the biggest university in Belgium. Begitu sampai di Leuven, kita semua dijemput sama sepupu saya yang lagi sekolah disana. Begitu keluar dari stasiun, kita langsung disambut dengan gedung-gedung tua Kota Leuven.


Habis nge-drop koper-koper kita di flat sepupu saya itu, niatnya saya cuma mau selimutan aja karna dingin banget (kalo nggak salah waktu itu suhunya 5 derajat celcius). Tapi sepupu saya bilang mau ngajak kita keliling kota sebentar sebelum toko-toko tutup. Sepupu saya itu juga mau ngajak kita makan wafel ter-enak se-Leuven. You never visit Belgium without tasting its wafel. Jadilah kita naik bus ke central. Tidak sampai 2 menit kita sudah sampai di central. Yes, saking kecilnya kota ini, kita mungkin cuma butuh waktu setengah hari untuk keliling. Pertama, kita diajak ke Oude Markt, tempat nongkrongnya mahasiswa-mahasiswa di Leuven. Di Oude Markt ini banyak berjejer cafe-cafe dan bar. Oude Markt ini kayak alun-alunya Kota Leuven, tipical sama yang ada di Brusel. Lapangan besar yang dikelilingi gedung-gedung tua yang akan bagus kalau di foto dari sudut manapun.

Oude Markt



Oude Markt is at the end of this narrowing street
Seperti yang saya bilang tadi, kalau sudah sampai Belgia, nggak afdol rasanya kalau belum nyicipin wafel belgia yang tersohor itu. Saya sengaja beli wafel yang plain, karna yang ini aja sudah enak banget. Tapi kalau nggak mau hanya sekedar nyobain yang plain, ada banyak topping yang bisa dipilih, tapi karna saya nggak begitu suka manis, yang plain aja sudah cukup manis buat saya. And yes, it was the best wafel i’ve ever ate. Rasanya beda aja sama yang sudah pernah saya makan di Indonesia. Apa karna saya makannya di Belgia langsung ya, makanya rasanya beda?

Wafel Kiosk
Sebelum balik ke flat sepupu saya, kita diajak ke untuk lihat one of the old gothic church yang ada di Town Hall. Sebelum nyebarang ke sana, kita ditunjukin sebuah patung kecil, namanya Fons Sapientiae. Patung laki-laki yang lagi pegang buku sambil megang gelas yand ditumpahin ke kepalanya. Patung ini namanya Fonske atau Fons Sapientiae. Sepupu saya bilang kalau this statue represents the student in Leuven yang hobi belajar sambil ngebir. Make sense sih karena Leuven juga dikenal sebagai Beer Capital. Tepat dibelakang berdirinya patung Fonske ini, terdapat sebuah bangunan berarsitektur romawi kuno dan dihiasi lampu-lampu yang membuat bangunan itu berwarna keemasan, calls The Leuven Town Hall. I was blown away by the detailed of work. When i looked at the building very carefully, there were over 200 statues added. Kalau kata sepupu saya, patung-patung itu adalah mereka yang berjasa buat kota ini, dan para pemuka agama.

Fonske
Town Hall
 Mia Wilis - Went to Leuven on January, 2014